Tak asing bagi seorang aktifis atau mahasiswa ketika mendengar sebuah kata yang bernama idiologi. karena mahasiswa dan kampus itu sendiri merupakan subjek dan pasarnya idiologi. Dengan kata lain idiologi itu sendiri ada dan tertanam dalam pribadi setiap mahasiswa atau pemuda ketika ia mulai memasuki dan menggeluti sebuah dunia nyata yang berbasiskan social kemasyarakatan baik dalam organisasi kemahasiswaan, kepemudaan atau lainnya yang bersifat non politis. Artinya siapapun ia baik personal, kelompok, lembaga atau institusi memiliki konsep dasar yang dijadikan kerangka acuan dalam melangkah dan bergerak untuk mencapai sebuah pergerakan yang yang dicita citakan dan ia dinamakan idiologi. Atau dengan kata lain dalam bentuk apapun pergerakan itu tidak akan pernah mencapai puncak tujuan walaupun telah terorganisir dan tertata dengan baik dan sistematis tampa adanya konsep dasar.

Makna Idiologi
Sebelum kita mengkaji lebih dalam tentang idiologi perlu difahami lebih jelas pengertian dari idiologi itu sendiri. Ibnu Sina (seorang filsuf dan ilmuwan islam sekaligus penemu ilmu bedah) mengatakan bahwa “Tanpa definisi, kita tidak akan pernah bisa sampai pada konsep”. Nama ideologi berasal dari kata ideas dan logos. Idea berarti gagasan atau konsep. sedangkan logos berarti ilmu. Kata idiologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke 18 untuk mendefinisikan sains tentang ide. Tujuan utama dibalik sebuah kata “ideologi’ adalah untuk menawarkan dan menciptakan perubahan melalui proses pemikiran-pemikiran yang idealis dengan didasarkan pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Atau dapat pula dikatakan dengan seperangkat ide yang berorientasi pada tindakan.

Banyak pakar-pakar ahli yang mendifinisikan idiologi dengan konsep dan pandangan yang berbeda-beda. Tidak kalahnya dengan filsuf islam yang mendifinisikan idiologi berdasarkan konsep dan pandangan aqidah dan ahklak. Namun Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan.

Namun hal utama yang perlu dikaji disini adalah : “ Darimana datangnya sehingga idiologi itu dapat terbentuk….? Kebanyakan orang bertanya dan dengan cepat menyanggahi ketika sebuah cita-cita pergerakan itu mulai di rilis “ Konsep dasarnya pa…..? atau…” Idiologinya apa…..?”.sebenarnya ini pertanyaan yang sangat bagus dan penting mengingat setiap pergerakan pergerakan yang selalu dilakukan oleh setiap mahasiswa saat ini selalu mengandung unsur politis dan intruksi dari seseorang atau sebuah lembaga yang memiliki kepentingan primordial.

Terlepas dari masalah itu dan kembali dalam lingkup pergerakan, jika ditafsirkan dan dianalisis dari kalimat yang menjadi sebuah pertanyaaan tadi adalah, Ini membuktikan bahwa kata Idiologi itu selalu di kedepankan dalam mengontrol dan mencari alternative dari sebuah kebijakan atau masalah social yang dipandang menyudutkan nilai spiritual, humanistic, cultural atau rasa keadilan.
Jika benar demikian adanya maka tidak mustahil bagi setiap individu, kelompok atau institusi untuk melangkah dan berpaling dari pergerakan yang dicita-citakan. Inilah hal utama yang menyebabkan langkah awal dari sebuah pergerakan itu menjadi hancur karena tidak adanya kesefahaman, keseragaman dan pandangan yang berbeda dalam menanggapi masalah yang sedang diangkat dan dibicarakan, atau tidak adanya titik temu dari idealisme yang dijabarkan karena sama-sama mempertahankan idiologi masing-masing yang akhirnya terpecah belah atau jika hal itu tetap terjadi akan ada provokasi massa yang betujuan menggagalkan pergerakan yang telah dibangun.
Disamping hal itu dan disisi lainnya jika benar idiologi itu menapaki langkah pertama dari pergerakan yang dimaksudkan juga tidak menyurut kemungkinan bagi setiap individu atau kelompok ketika target yang diharapkan tidak tercapai akan terdapat sebuah kekecewaan yang menjadi beban moril diakibatkan lemahnya sebuah pemahaman dan semangat dari pergerakan dan akhirnya menjadi vis a vis. Atau sering di tafsirkan dengan “ kalah sebelum bertanding….”

Pentingnya Klarifikasi
Disini saya tidak mengatakan bahwa idiologi itu tidak penting, namun berdasarkan pengertian yang telah dibahas diatas jelaslah bahwa yang perlu di garis bawahi disini adalah “ proses pemahaman dan perumusan dari sebuah masalah itu sangat penting untuk difahami dan dikaji.” Pengkajian itu sendiri meliputi : sudut pandang agama, hukum, sejarah, ekonomi social , serta pendidikan dan kebudayaan. Sehingga terbentuk dan mapu melahirkan sebuah kesadaran dan semangat yang tinggi dalam mengaspirasikan dan analisis serta alternative yang bijaksana atas problema dan dilematika social yang ada yang mampu dijadikan konsep dasar untuk melakukan sebuah pergerakan yang bersifat baku dan memiliki loyalitas dan komitmen yang tinggi. Atinya disini memiliki makna bahwa idiologi itu akan terbentuk dan tercipta ketika rumusan dari sebuah masalah yang akan menjadi pergerakan digagas dan dikaji secara mendalam dan hasil dari kajian itulah yang akhirnya menjadi konsep dasar dari basis social yang dinamakan idiologi.

Pergerakan-pergerakan inilah yang selalu diagungkan dan dicita-citakan oleh setiap unsure masyarakat yang ada dibelahan bumi dimana setiap pergerakan itu sendiri selalu dan mampu menuai hasil yang santun dan bijak tampa memandang dan mengedepankan rasionalitas dimana tujuan yang diharapkan terpenuhi. Inilah deskripsi dan potret dari sebuah pergerakan yang dilakukan pada tahun 1998 dan tahun tahun sebelumnya yang menjadi momentum bangsa dimana seluruh daerah dan kota, dan organisasi-organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan yang memiliki bermacam ragam idiologi tetapi mampu menciptakan sebuah pergerakan massa yang multi dimensi dan persepsi demi sebuah cita-cita bersama yaitu “ semangat reformasi.”