By : Sulaiman Sajja

Mentari berbinar terang pagi itu, cahayanya yang tajam menembus  kota kecil  tempat dimana mereka menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang  terpenting dalam hidupnya. Seekor elang terlihat jelas melayang di udara, sesekali bersiul dan melambaian kipas lembutnya sambil melirik mangsa. Keceriaan kupu-kupu  terbagi dengan mekarnya warna-warni bunga yang terlihat jelas. Keharumannya begitu terasa sesejuk  beningnya embun di pagi itu.

Tak lama,  bel dindingpun berdering, membuat aku yang masih duduk di bangku kelas 3 Madrasah Aliyah itu untuk mengantarkan buku pelajaran kepada guru kelas. tiba2 gadis perempuan cantik nan jelita berlari melewati sebuah gedung tua yang tidak lagi berpenghuni itu

Ayunan  langkah kakinya yang begitu cepat dan wajahnya yang bersembunyi dari balik seragam abu-abu itu membuat aq sejenak berhenti dan bertanya ‘Siapakah dirinya . . .” yang membuat aku  terpaku di sudut dinding sekolah itu  “

Kutelusuri jejak langkah kaki yang sempat membekas di atas rerumputan hijau halaman madrasah itu,  ternyata ia adalah siswa pindahan dari sebuah pondok pesantren

Waktu  berjalan tampa batas bagaikan jam pelajaran yang terus berganti dan bel pun ikut  berdering menandakan penghujung waktu itu. Hingga membawa aku dan dirinya pada kegiatan extrakurikuler. Keahlian berbahasa dan kegemarannya merangkai angka ikut menemani hari indahnya dan membawanya pada gudang prestasi  berhadiahkan  kekaguman dan harapan

Jam dinding yang terus berdetak seakan tidak lagi bermakna,  aku menyadari bahwa harapan itu hanyalah angan  indah  seperti purnama yang bisa  datang dan pergi pada waktunya, dan aku  hanya bisa tersenyum manis dan memandang dari kejauhan.

Gelisahpun  kian muncul diawali sebuah kekhawatiran kecil ketika dirinya dikhabarkan pengawas terancam tidak lulus karena catatan kecil yang bukan miliknya. Kurasakan kegelisahan itu bersama kawan-kawan hingga aku memberanikan diri untuk menadahkan tangan dan memohon kelulusannya dan berkhir dengan keceriaan

Kesibukan dan transisi waktu persiapan akademik membuat aku sedikit jauh darinya, hingga suatu saat ia menelpon dan menanyakan kabarku. Kala itu aku sedang berlibur  di sebuah kota kecil, Kota tempat dimana aku lahir dan dewasa. Kota nan indah dan jelita yang dapat memikat hati para turis untuk kembali datang dan mengingatnya

Siratan kecil di hati tentang kekaguman itu masih tersimpan rapi dan berharap mampu mewarnai harinya dengan senyum. Senyum yang mampu membuat aku damai. Dan senyum yang mampu menawarkan sebuah konsep baru yang siap menemani hari-hariku di kala sepi dan gelapnya malam

kucuba mencari arti dari  perasaan itu, tidak  satupun jawaban tepat untuk menjelaskan.  namun satu hal yang harus kuakui adalah, sikapnya yang begitu lembut, keikhlasan senyumnya dan pesona indah tidak pernah bosan untuk di pandang, tidak terlepas dari goresan kekaguman yang telah rapi tersimpan

Waktu pun terluangkan sepenuhnya dari kesibukan aktifitas insan akademis dan aktifitas organisasi untuk dirinya. walau sedikit sulit untuk berpapasan dan berbohong ketika ia menyempatkan diri untuk bertanya keadaan dan aktifitas hingga berpaling dari kewajiban sebagai mahasiswa jalanan, walau harus berjalan kaki dan meminta kepada orang lain untuk sebuah tumpangan. Tumpangan untuk kembali kerumah dan beristirahat

kegelisahan itu kian muncul saat aku harus menunggu kepulangannya pada sebuah terminal kecil lintas batas wilayah dengan di temani oleh iringan dan nyanyian nyamuk kecil dengan lantunan irama gelisah yang kadang kala hinggap untuk menyapa serta bertanya “ apa dan siapa yang engkau tunggu wahai kawanku ?”  disertai dinginya angin malam dan embun pagi yang  membuat rumput malam  dian dan  membeku di dalam kesunyian.

Kekhawatiran itu tak kunjung reda ketika aku tak lagi bisa menghubunginya dengan selular yang menjadi saksi bisu malam itu. aku sadar sepenuhnya walau tidak ada  satupun kata yang hinggap dari dirinya dan kawan-kawannya. Pernantian itu tak lagi berarti ketika jawaban yang terucap adalah “ menunggu datangnya pagi ”

Pahitnya pengalaman sebuah undangan pertemuan yang di hiasi dan di temani oleh indahnya warna-warni lampu lalulintas jalan itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia yang hanya diam dan berkata “Forgive Me”  atas kekhawatiran itu kuanggap sebagai pelajaran penting bagiku tentang arti sebuah keikhlasan dari senyuman  yang telah aku pelajari, karena di luar sana ada banyak anak manusia yang tidak memiliki apa-apa dan berharap orang-orang mengkhawatirkan keberadaannya.

Pengalaman dan pelajaran berharga itu membuat aku  lebih jauh dalam menapaki arti hidup. Itulah diriku, Aku yang hidup dan besar dari belaian gemuruh ombak lautan dan  badai samudra yang tidak berbatas dan bertepi. dan aku yang masih belum dan belajar banyak arti dari sebuah keikhlasan dan kemuliaan dari makna sebuah senyum yang engkau tawarkan hingga terpoles pesan berharga untuk mengikhlaskan diri kepada orang lain.

Kesulitan kecil yang tidak dapat kuterima dan kumengerti adalah kekhawatiran itu berubah menjadi rasa sayang yang berlebihan hingga membentuk perhatian penuh akan hari-harinya. Seolah tidak ada satupun yang dapat mencuri perhatian itu.

Hinggapnya perasaan dan uluran tangan lainnya tidak berarti apapun bagiku, terabaikan begitu saja tampa berfikir pengorbanan, perhatian, kasih sayang yang telah di lakukan dan di berikan walaupun jauh lebih dari apa yang telah kulakukan untuk seorang gadis yang begitu aku kagumi itu. Umpama nahkoda yang telah melentangkan layarnya sulit jua untuk berpaling apalagi membelokkan perahunya. Begitulah Perasaan  yang kian melekat ketika ia menceritakan semua tentang kesendiria di balik hari-harinya. .

Selapis harapan telah kugenggam  dari tangannya . kedekatan itu semakin  merapat  bak perahu yang sedang menepi di tengah lautan  hening.  Kurelakan waktu sepenuhnya dengan ikhlas untuk selalu menemani harinya  yang sepi walau harus berlari bersama dan mengejar waktu  yang begitu sempit itu.

Waktu terus bersahabat, Empat tahun telah berjalan terasa lambat bagiku. Ia yang dahulu bersembunyi di balik seragam abu-abu berubah menjadi warna-warni katun , kadang sesekali kebaya ikut  menyelimuti tubuhnya. Keanggunannya semakin  terlihat dan mampu menghempas debu yang bertautan. Pesonanya tak luput untuk menghentikan  waktu yang terus berdetak, tak heran jua sikapnya yang lembut itu mampu membuat seorang raja untuk tunduk dan takhluk kepadanya.

Namun, semuanya menjadi berubah karena waktu tidak pernah berhenti untuk berputar,  setidaknya ia (waktu) akan menjadi cermin untuk menapaki jejak,  dan terus berjalan bersama bayangan keikhlasan walaupun sulit untuk mengakuinya. terimakasih atas waktu yang pernau engkau berikan.

Banda Aceh, 20 Nevember 2011

Sampai jumpa ditanah lapang dimana jejak langkah tidak berbekas